UPACARA ADAT MITONI/TINGKEBAN DESA SINGOPURAN KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH

Published January 13, 2012 by a410080130
  1. PENDAHULUAN

Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat dan bisa berbuat apapun sesukanya, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan, dan budaya religi turun-temurun dimana suku dan bangsa itu memiliki tradisi nenek-moyang yang kuat. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat.

Dalam tradisi jawa, mitoni atau tingkeban merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa. Kata mitoni berasal dari kata “am” (awalan am menunjukkan kata kerja)  dan “7” yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada bulan ke-7. Upacara mitoni merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan. Pada hakekatnya upacara ini dipercaya sebagai sarana menghilangkan petaka, yaitu semacam inisiasi yang menunjukkan bahwa upacara-upacara itu merupakan penghayatan dai unsure-unsur kepercayaan lama. Selain itu . terdapat suatu aspek solidaritas primordial utama karena merupakan adat istiadat yang turun temurun sudah dilestarikan oleh suatu kelompok sosial. Mengabaikan adat istiadat akan mengakibatkan celaan dan nama buruk bagi keluarga yang bersangkutan di mata kelompok sosial masyarakat

 

  1. LETAK GEOGRAFIS
    1. Letak geografis daerah sukoharjo yaitu :

Batas – batas daerah

Sebelah utara     : kota Surakarta dan kabupaten karanganyar

Sebelah timur     : kabupaten karnganyar

Sebelah selatan  : kabupaten gunung kidul dan kabupaten wonogiri

Sebelah barat     : kabupaten boyolali dan kabupaten klaten

  1.  Letak Daerah

Bagian ujung sebelah timur   : 110 57’ 33.70” LS

Bagian ujung sebelah barat    : 110 42’ 6.79” LS

Bagian ujung sebelah utara    : 7 32’ 17.00” BT

Bagian ujung sebelah selatan : 7 49’ 32.00” BT

 

  1. MATA PENCAHARIAN

Banyak dari penduduk Singopuran yang bermata pencaharian wiraswasta maupun PNS maka dari itu, upacara adat seperti ini sudah jarang di daerah Singopuran, karena dijaman yang serba canggih penuh dengan teknologi seperti saat ini menyebabkan banyak dari mereka yang sudah memperoleh pengetahuan yang bisa dibilang bahwa pemikiran mereka suadah modern.

 

  1. KOMPOSISI PENDUDUK
    1. Berdasar Profesi

Penduduk daerah Singopuran lebih cenderung memilih profesi sebagai wiraswasta, guru maupun PNS, karena daerah tersebut dekat dengan daerah pasar dan banyak sekolah – sekolah yang telah berdiri di daerah ini.

  1. Berdasar Agama

Mayoritas penduduk beragama Islam, dengan prosentase 90% penduduk beragama Islam.

 

  1. UPACARA ADAT YANG MASIH DILESTARIKAN

Upacara adat yang masih dilestarikan di desa singopuran kecamatan kartasura kabupaten sukoharjo yaitu :

  1. Tedak siten

Upacara Tedak Siten atau di sebut juga Upacara Turun Tanah merupakan upacara tradisi masyarakat Jawa yang di adakan pada anak pertama dari pasangan suami istri. Tepatnya waktu diadakan upacara ini adalah saat sang anak berumur tujuh lapan (7x 38 hari) atau ketika anak mulai belajar berjalan. Makna dari upacara ini adalah untuk memperkenalkan anak untuk pertama kali nya pada tanah/ bumi dengan maksud agar kelak anak tersebut mampu untuk berdiri sendiri dan mampu untuk melewati segala tantangan dalam kehidupan nya.

  1. Mitoni / tingkeban

Mitoni atau tingkeban merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa. Kata mitoni berasal dari kata “am” (awalan am menunjukkan kata kerja)  dan “7” yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada bulan ke-7.

  1. Selametan orang meninggal

Salah satu budaya Jawa adalah selamatan orang meninggal. Mereka biasa menyebut dengan Slametan. Jika ada orang yang meninggal dunia, maka mereka akan mengadakan selamatan, yang inti dari selamatan itu adalah mendo’akan orang yang sudah meninggal. Biasanya dilakukan dengan do’a bersama dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an, dan do’a-do’a yang lain.

Selamatan yang biasa dilakukan oleh orang Jawa adalah :

  • 1-7 hari (telung dina, pitong dina)
  • 40 hari (matangpuluh dina)
  • 100 hari (nyatus dina)
  • Mendhak 1
  • Mendhak 2
  • 1000 hari (nyewu)

Orang Jawa mempunyai rumus tersendiri dalam menghitung selamatan. Salah satunya dengan memanfaatkan Hari dan pasaran. Hari adalah Senin,Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at , Sabtu dan Minggu. Sedangkan pasaran adalah Pon, wage, Kliwon, Manis (Legi) dan Pahing. Mereka mengkombinasikan hari dan pasaran tersebut sehingga menemukan kapan hari selamatan tersebut. Mereka mempunyai rumus tersendiri dalam menghitung selamatan tersebut.

  1. Prosesi siraman penganten, dll

Siraman Pengantin adalah salah satu bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Upacara siraman pengantin atau memandikan calon pengantin, dilaksanakan sehari sebelum akad nikah (upacara panggih). Perlengkapan dalam upacara siraman ini, diantaranya, air bersih dari beberapa sumber mata air (tujuh sumber mata air), kembang setaman (bunga kenanga, kantil, melati dan mawar) yang ditaburkan dalam air, sepasang kelapa muda hijau dan alas duduk.

Mengapa calon pengantin perlu siraman? Perkawinan adalah peristiwa yang suci untuk membangun keluarga selama-lamanya. Oleh karena itu, sebelum perkawinan, calon pengantin perlu bersuci. Suci lahiriah dengan siraman air perwitasari. Secara batiniah ketika siraman, calon pengantin menerima doa, restu, dan nasihat para tetua. Upacara siraman antara pengantin pria dan wanita ada yang dilaksanakan terpisah, tetapi ada yang disatukan.

 

  1. PROSESI UPACARA ADAT MITONI/TINGKEBAN DI DESA SINGOPURAN

Dalam pelaksanaan upacara mitoni, ibu yang sedang hamil 7 bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai do’a-do’a khusus.

Tata cara pelaksanaan upacara mitoni :

Siraman dilakukan oleh sesepuh sebanyak 7 orang. Bermakna mohon doa restu, supaya suci lahir dan batin. Setelah upacara siraman selesai, air kendi 7 mata air dipergunakan untuk mencuci muka, setelah air dalam kendi habis, kendi dipecah.

Memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain(sarung) calon ibu oleh suami melalui perut sampai pecah, hal ini merupakan simbul harapan supaya bayi lahir dengan lancar tanpa suatu halangan.

Berganti nyamping sebanyak 7 kali secara bergantian, disertai kain putih. Kain putih ini sebagai dasar pakaian pertama, yang melambankan bahwa bayi yang akan dilahirkan adalah suci, dan mendapatkan berkah dari Tuhan yang Maha Esa. Diiringi pertanyaan sudah “pantas apa belum”. Sampai ganti enam kali dijawab oleh ibu-ibu yang hadir “belum pantas”. Sampai yang terakhir ke-7 kali dengan ganti kain sederhana dijawab “pantas”.

Adapun nyamping yang dipakaikan secara urut  dan bergantian berjumlah 7 dan diakhiri dengan motif yang paling sederhana sebagai berikut

–          Sidoluhur

Maknanya agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.

–          Sidomukti

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya,

–          Truntum

Maknanya agar keluhuran budi orang tuanya menurun pada sang bayi.

–          Wahyu tumurun

Maknanya agar bayi yang lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan selalu mendapat petunjuk dan perlindunganNya.

–          Udan riris

Maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenagkan siapa saja yang bergaul dengannya.

–          Sido asih

Maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu dicintai dan dikasihi oleh sesame serta mempunyai sifat belas kasih.

–          Lasem sebagai kain

Bermotif garis vertical, bermakna semoga anak senantiasa bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

–          Dringin sebagai kemben

Bermotif garis horizontal, bermakna semoga anak dapat bergaul, bermasyarakat, an berguna antar sesama. Mori dipakai sebagai busana dasar sebelum berganti-ganti nyamping, dengan maksud bahwa segala perilaku calon ibu senantiasa dilambari dengan hati yang bersih. Jika suatu saat keluarga tersebut bahagia sejahtera dengan berbagai fasilitas atau kekayaan atau memiliki kedudukan maka hatinya tetap bersih tidak sombong atau congkak, serta senantiasabertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Makna nyamping yang biasa dipakai secara berganti-ganti pada upacara adat mempunyai beberapa pilihan motif yang semuanya dimaknai secara baik

Pemutusan lawe atau janur kuning yang dilingkarkan diperut calon ibu, dilakukan calon ayah menggunakan keris brojol ysng ujungnya diberi rempah kunir, dengan maksud agar bayi dalam kandungan akan lahir dengan mudah.

Calon nenek dari pihak calon ibu , menggendong kelapa gading dengan ditemani oleh ibu besan. Sebelumnya kelapa gading diteroboskan dari atas ke dalam kain yang dipakai calon ibu lewat perut, terus kebawah, diterima oleh calon nenek, maknanya agar bayi dapat lahir dengan mudah tanpa kesulitan. Calon ayah memecah kelapa, dengan memilih salah satu kelapa gading yang sudah digambari kamajaya dan kamaratih atau harjuna dan wara sembodro.

Upacara memilih nasi kuning yang diletakkan didalam takir sang suami. Setelah itu dilanjutkan dengan upacara jual dawet dan rujak, pembayaran dengan pecahan genting, yang dibentuk bulat, seolah-olah seperti uang logam. Hasil penjualan dikumpulkan dalam kuali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang receh dipecah didepan pintu. Maknanya agar anak yang dilahirkan banyak mendapat rejeki, dapat menghidupi keluarganya dan banyak amal.

Hidangan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan YME, yang disediakan dalam upacara tingkeban antara lain :

–          Tujuh macam bubur, termasuk procot.

–          Tumpeng kuat, maknanya bayi yang akan dilahirkan nanti sehat dan kuat

–          Jajan pasar, syaratnya harus beli di pasar.

–          Rujak buah-buahan tujuh macam, dihidangkan sebaik-baiknya supaya rujaknya enak, bermakna ank yang dilahirkan menyenangkan dalam keluarga.

–          Dawet, supaya menyegarkan.

–          Waktu pelaksanaan antara pukul 09.00 sampai dengan 11.00 calon ibu mandi dan cuci rambut yang bersih, mencerminkan kemauan yang suci dan bersih.

Hari pelaksanaan biasanya hari rabu atau sabtu saat tanggal jawa yaitu 14 dan 15

Yang menyirami para ibu yang berjumlah 7 orang yang terdiri sesepuh dekat, upacara dipimpin oleh ibu yang berpengalaman.

 

 

  1. NILAI EDUKASI UPACARA ADAT MITONI/TINGKEBAN

Upacara adat 7 bulanan yang disebut mitoni ataupun tingkeban ini mengajarkan kepada masyarakat untuk saling kerjasama menghargai terhadap sesama.tidak hanya itu, mitoni ini mengangkat berbagai macam kain-kain yang dipakai oleh calon ibu yang mempunyai makna masing-masing. Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil pelajaran, yaitu kita sebagai manusia makhluk ciptaan Allah SWT hendaknya harus cermat serta harus merencanakan bagaimana kita hidup di dunia ini yang penuh dengan kesenangan ataupun sendau gurau dan lainnya. Jika kita sebagai manusia hidup di dunia ini tidak mempunyai tujuan hidup yaitu akhirat, alangkah menyesalnya kita sebagai manusia. Oleh sebab itu kita harus mempunyai rencana- rencana maupun target-target hidup di masa mendatang kelak, sehingga kita menjadi manusia yang sukses tidak hanya di dunia namun di akherat pun juga. Dalam prosesi mitoni juga dijelaskan bahwa yang memimpin upacara adalah ibu yang sudah berpengalaman, disini bisa dilihat bahwa dalam suatu acara maupun kepanitiaan maupun kepemerintahan, sudah tentu kita hendaknya memilih seseorang yang lebih mengerti maupun lebih berpengalaman untuk memimpin suatu kelompok.

 

  1. KOMENTAR

Upacara  adat mitoni ataupun upacara adat yang lainnya memang bagus untuk sarana sosialisasi terhadap masyarakat sekitar maupun mempererat tali silaturahmi antar sesama keluarga, sehingga tercipta suatu kelompok masyarakat yang harmonis. Akan tetapi di lain sisi, upacara adat seperti ini sangat tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam, sudah seharusnya kebiasaan adat seperti ini dihilangkan dari kebiasaan masyarakat setempat karena termasuk bid’ah ( sesuatu yang diadakan tetapi tidak ada tuntunannya), seperti Sabda Rasulullah :

عَنْ ا ُمِّ الـْمُؤْمِنِيْنَ ا ُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشـَة َ رَضِيَ اللهُ عَنـْهَا قـَالـَتْ قـَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلـَّى اللهُ عَلـَيْهِ وَسَلـَّمَ مَنْ اَحْدَثَ فِيْ اَمْرِنـَا هٰذ َا مَا لـَيْسَ مِنـْهُ فـَهُوَ رَدٌّ

(رواه البخارى ومسلم)

وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لـَيْسَ عَلـَيْهِ اَمْرُنَا فـَهُوَ رَدٌّ.

Dari Ummil Mu’minin ibunya Abdillah, Aisyah r.a berkata, telah bersabda Rasulullah SAW : “ barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami padahal tidak kami perintahkan maka hal itu ditolak.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim.

Dan dalam riwayat Muslim : “ barangsiapa mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak cocok dengan aturan agama kami, maka hal itu ditolak.

     Adat istiadat seperti ini maupun adat istiadat yang lainnya lebih baik mulai dihilangkan dalam kehidupan masyarakat yaitu dengan sosialisasi melalui pengajian atau yang lainnya. Banyak cara untuk saling menjaga silaturahmi, seperti saling bertamu anta tetangga, salang mengucapkan salam ketika bertemu, dan lain – lain. Alangkah indah hidup seseorang di dunia jika setiap orang meyakini dan menjalankan setiap perintah yang disyariatkan oleh Allah SWT.

Permasalahan yang sebenarnya bukan terletak pada pilihan seseorang terhadap salah satu diantara konsep agama dan budaya atau menerapkan keduanya, akan tetapi kesadaran terhadap perbedaan nilai-nilai substantif yang dikandung oleh agama dan budaya. Agama diyakini memiliki nilai-nilai transenden sehingga sering dipahami sebagai suatu dogma yang kaku. Sementara nilai-nilai budaya relatif dipandang lebih fleksibel sesuai kesepakatan-kesepakatan komunitas untuk dijadikan sebagai standar normatif.

Oleh karenanya, diperlukan sebuah kearifan serta pandangan kritis terhadap konsep-konsep agama dan budaya lokal yang membentuk perilaku normatif masyarakat Jawa agar tidak terjadi kesalahan dalam memandang nilai-nilai luhur budaya lokal serta tidak terjebak dalam penerapan ajaran agama yang statis, dogmatis dan kaku yang tercerabut dari nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

 

  1. PENUTUP
    1. Kesimpulan

Mitoni atau tingkeban merupakan rangkaian upacara siklus hidup yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat jawa. Kata mitoni berasal dari kata “am” (awalan am menunjukkan kata kerja)  dan “7” yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada bulan ke-7. Upacara mitoni merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan. Pada hakekatnya upacara ini dipercaya sebagai sarana menghilangkan petaka. Akan tetapi dalam syariat Islam adat seperti ini tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan ajaran. Oleh karena itu seharusnya mulai dari sekarang adat tersebut mulai untuk dihilangkan dari kehidupan masyarakat dan akan membentuk masyarakat yang Islami.

  1. Saran

Seperti yang dipaparkan, kalau dalam Agama Islam hal tersebut tidak dibolehkan. Tapi kalau untuk sekedar pengetahuan untuk keturunan – keturanan manusia yang selanjutnya mungkin dianjurkan akan tetapi tetap diselipkan bahwa hukum untuk melaksanakan upacara adat tersebut tidak boleh karena termasuk bid’ah.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: